CILEGON, SSC – Kepala Bidang Pengelola Lembaga Non Formal (P2PNF) pada Dinas Pendidikan Kota Cilegon Ahmad Najid mengaku, sebanyak 10 persen warga Kota Cilegon masih buta aksara atau buta huruf.
“Kalau dilihat dari data yang kita miliki, dibawah 10 persen warga Cilegon mengalami buta aksara atau buta huruf,” kata Ahmad kepada Selatsunda.com pada acara Pelatihan Kelembagaan Pengelola Lembaga PNF yang digelar di salah satu rumah makan di Kota Cilegon,” Rabu (14/11/2018).
Ia menjelaskan, persentase jumlah buta aksara yang tergolong maaih tinggi ini dipengaruhi sejumlah hal. Diantaranya minimnya akses pelayanan pendidikan dasar. Selain itu pengaruh lain berhubungan dengan angka anak putus sekolah terutama di kelas I, II, dan III jenjang sekolah dasar.
Guna mengatasi persoalan buta aksara tersebut, pemerintah menerapkan kebijakan alternatif dalam memberantas buta aksara.
“Ada pendidikan kelompok belajar keaksaraan mandiri yang pada hakikatnya pendidikan kecakapan hidup sebagai kelanjutan dari program keaksaraan yang sudah ada,” katanya.
Untuk menarik minat warga pada kelompok umur di atas 40 tahun diperkenalkan pula program kewirausahaan. Terobosan ini tidak lain agar warga dapat membaca, menulis, dan menghitung.
”Dari kegiatan kewirausahaan itu, muncul kebutuhan membaca dan menulis. Setelah itu, sedikit- sedikit diberikan materi keaksaraan,” ujarnya.
Ia berharap, program yang dicetuskan ini dapat membantu pemerintah menekan angka buta aksara. Program dapat berjalan sepenuhnya tentunya dengan dukungan seluruh pihak.
“Ini mudah-mudahkan dapat teratasi dengan baik meskipun tidak bisa 100 persen Cilegon bebas dari buta aksara,” ucapnya. (Ully/Red)

