SERANG,SSC – Pengamat Komunikasi Politik FISIP Universitas Mathla’ul Anwar, Atih Ardiansyah atau Fatih Zam punya pandangan menarik terkait kalahnya Vera Nurlela – Nurhasan dala Pilkada Kota Serang berdasarkan hasil Hitung Cepat (Quick Count) KPU.

Untuk diketahui, berdasarkan data C1 scan yang masuk ke website KPU, helatan Pilkada Kota Serang dimenangkan oleh Paslon nomor urut tiga (3) Syafrudin-Subadri dengan perolehan presentase sebesar 38,69 Persen dengan suara sebanyak 108.856.

Sementara Paslon nomor urut 1 Vera Nurlela-Nurhasan mendapatkan suara sebanyak 90.468 dengan persentase 32.15 persen dan disusul pasangan nomor urut 2 Samsul Hidayat dan Rohman dengan suara sebanyak 82.030 atau persentase 29.16 persen.

Sebelum membahas kandidat, kata Atih, pesta demokrasi yang dewasa diikuti tiga pasang calon, bahkan ada dari unsur independen (nonpartai). “Ini menunjukkan bahwa atmosfer Kota Serang amat demokratis,” ujarnya.

Menurut Atih, seperti diberitakan beberapa media, berdasarkan hasil hitung cepat beberapa lembaga survey, pasangan No.e berada di garis terdepan, diikuti No. 1 kemudian No. 2. Ini kejutan karena secara hitung-hitungan amunisi kekuatan, No. 1 tampak mendominasi: petahana (Vera istri Jaman) dan disokong koalisi partai besar dan banyak,”

“Tapi nyatanya, No. 1 kurang bisa bicara banyak meskipun didukung banyak parpol. Ini disebabkan oleh, di antaranya, ketokohan kandidat,” kata Atih.

Pada pilkada di Indonesia, jelasnya, figuritas masih menjadi kunci utama dalam meraih kemenangan. Sayangnya, menurutnya, koalisi No. 1 tidak memerhatikan hal ini. Publik tidak berhasil menemukan figur yg kuat pada diri Vera Nurlaila.

“Vera hanyalah istri Chaerul Jaman, wali kota dua periode. Sebatas itu. Tidak ada pesona individu yang dipancarkan sosok Vera. Mau ndompleng pada sosok suaminya pun, mohon maaf, Jaman dalam dua periode pemerintahannya sebagai wali kota Serang, tidak memiliki keistimewaan. Tidak ada hal yang bisa disebut membanggakan dari kepemimpinan Jaman yg bisa dikapitalisasi oleh Vera. Sehingga dalam kampanye politiknya, Vera praktis tidak bisa menjual program unggulan Jaman. Yang kental pada akhirnya, justru pelanggengan dinasti politik, meskipun lawan-lawannya tidak secara optimal mengeksploitasi hal tersebut,” ujarnya.

Sementara Nurhasan, kata Atih, sosoknya tidak dikenal dan tidak memiliki nial jual. Jadi, kehadiran Nurhasan sbg calon wakil Vera, tidak menolong kelemahan-kelemahan yg dimiliki oleh Vera. Sehingga publik  hanya melihat “zonk” dari pasangan ini. “Koalisi parpol tidak banyak menolong karena dalam pilkada, figuritas masih menjadi kunci utama,” tandasnya.

Atih juga mengkritisi jargon “Cantik” yang digunakan pasangan ini. Menurutnya, dengan amunisi yanng banyak harusnya koalisi parpol bisa lebih memolea dan menjual Vera -Nurhasan tidak hanya fokus ke jargon “Cantik”.

Kata Atih, Publik tak menemukan korelasi jargon “Cantik” dengan kondisi Kota Serangyg dipimpin Jaman selama dua periode. Visi “Cantik” pasangan ini cuma berpusar pada dua hal, pertama bahwa kata tersebut merupakan akronim.  Kedua kata tersebut diasosiasikan pada sosok Vera yang berjenis perempuan maka itu layak dibilang cantik.

“Bahkan kesemerawutan Kota Serang hasil kerja 2 periode Jaman, ditunjukkan oleh alam H-1 pencoblosan, yakni banjir di beberapa titik Kota Serang. Situasi ini makin menenggelamkan kata *cantik* yg dibawa oleh tim No.1,” ujarnya.

Unggul tipis pasangan No.3 atas No.2 menurutnya juga di luar dugaan. “Sudah tradisi, di Banten, pula Kota Serang, salah satunya, persepsi publik akan kemenangan kandidat selama ini bisa dilihat dari dukungan parpol. Dibandingkan paslon 1, paslon 3 hanya didukung 4 parpol yakni PPP, PAN, Hanura dan PKS,” pungkasnya.(RF/SSC)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here