Kejari Cilegon, Andi Mirnawati didampingi Kasintel, David Nababan dikomfirmasi terkait Kasus Dugaan Korupsi JLS Ambrol saat di Kantor Kejari Cilegon, Senin (22/7/2019). Foto Ronald/Selatsunda.com

CILEGON, SSC – Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Cilegon terus mendalami dugaan kasus tindak pidana korupsi terkait pembangunan Jalan Lingkar Selatan (JLS) yang pada april 2018 lalu sempat ambrol. Selain tengah menunggu perhitungan kerugian negara dari BPKP Banten,  institusi hukum ini tengah memburu keterangan dari kontraktor maupun sub kontraktor pekerjaan proyek pembangunan JLS tahun 2013-2015 silam itu.

“Ini yang kita masih buru, karena ternyata berdasarkan (penyidikan) ini ada yang kerja ada yang tandatanan kontrak. Jadi dua-duanya mungkin akan kita kejar,” ujar Kepala Kejaksaan Negeri Kota (Kajari) Cilegon, Andi Mirnawaty kepada awak media usai memperingati Hari Bakti Adhyaksa ke-59 di Kantor Kejari Cilegon, Senin (22/7/2019).

Mirna sapaan akrabnya tidak menyebut nama para pihak pelaksana proyek yang dibidik pada kasus tersebut. Walaupun demikian, pemanggilan sudah dilakukan untuk memenuhi alat bukti penyidikan lebih lanjut.

“Sudah (dipanggil), tapi pemanggilan kembali,” terangnya.

Disinggung pekerjaan disub-kan kepada kontraktor lain, Mirna tak mengelak ada dugaan tersebut. Saat ini, pihaknya juga memburu keterangan pihak lain yang terlibat pada kasus tersebut.

“Sepertinya begitu. Tapi kami kan berdasarkan kontrak, berdasarkan bukti. Bukti itu kan berdasarkan yang tanda tangan kontrak, pelaksananya. Itu sudah kita cari belum kita dapat. Saat ini, kami lakukan menggunakan fungsi-fungsi intelejen untuk mendapatkan yang mengerjakan maupun yang menandatangani kontrak,” terangnya.

Mengenai alat bukti lain, kata Mirna, pihaknya sudah meminta keterangan saksi ahli dari salah satu universitas di Kota Bandung. Pemenuhan keterangan itu untuk membuka kasus dugaan pekerjaan yang tidak sesuai spesifikasi terang benderang.

“Yang agak lama itu, ahli dari Bandung, alatnya untuk meng-scan pembesiannya itu. Itu kan makan waktu dari desember, menunggu alat itu. Maksudnya pemberian dan rangkanya, apakah sesuai dengan RAB-nya atau bagaimana dan seterusnya,” tuturnya.

Ia menerangkan, Kejari akan langsung menetapkan tersangka jika seluruh alat bukti terpenuhi termasuk perhitungan kerugian negara pada proyek senilai Rp 12 miliar tersebut. Saat ini, pihaknya belum membeberkan identitas tersangka sekalipun nama-nama yang diduga terlibat telah dikantongi.

“Begitu keluar jumlah perhitungan kerugian negara, saya akan menetapkan tersangka,” jelasnya.

“Berapa orang yang kami tetapkan sebagai tersangka, yang jelas lebih dari satu dan tidak mungkin dua,” pungkas dia. (Ronald/Red)

Komnetar anda tentang berita diatas?