CILEGON, SSC – Studi komparasi yang dilakukan Pemerintah Kota Cilegon di Kota Probolinggo, Jawa Timur guna memperoleh input terkait perjanjian konsesi untuk pelabuhan warnasari dinilai sia-sia atau dapat dikatakan tanpa hasil. Pasalnya, upaya yang sebelumnya sempat didorong Plt Walikota Cilegon, Edi Ariadi kepada jajarannya untuk menalaah konsesi pelabuhan probolinggo itu sebagaimana mengikuti saran KSOP Kelas I Banten, berujung tak sesuai harapan.

Edi pun kesal menanggapi itu ketika ditanya awak media saat keluar dari kantornya, Kamis (30/8/2018). Dari laporan yang diterima, papar Edi, seyogyanya komparasi konsesi itu tidak musti dilakukan karena kondisi dua pelabuhan antara Probolinggo dan Warnasari berbeda jauh. Selain itu, menurut Edi, penyerahan Hak Pengelolaan Lahan (HPL) warnasari yang selama ini berpolemik tidak perlu lagi diperdebatkan panjang. Karena disetiap perjanjian konsesi pelabuhan, Badan Usaha Pelabuhan wajib memenuhi persyaratan tersebut.

Diketahui, Pemkot berencana membangun pelabuhan warnasari diatas lahan 10 dari 45 hektar yang tersedia. Sertifikat HPL warnasari dipersyaratkan untuk dipecah atau splitshing sebagaimana rencana pembangunan pelabuhan yang akan dikerjasamakan antara PT Pelabuhan Cilegon Mandiri (PT PCM) dengan PT Bosowa Bandar Indonesia (PT BBI). Sebelumnya juga, Sertifikat HPL warnasari pada HUT Kota Cilegon 2017 lalu telah diserahkan Pemkot ke PT PCM guna percepatan pembangunan pelabuhan.

“Jadi ternyata di Probolinggo itu (Hak Pengelolaan Lahan/HPL) juga dilepas, artinya yang 10 hektar itu silakan (diserahkan) sama KSOP, tapi kan itu cuma konsesinya saja itu. Secara fisik kan tetap (HPL) kita, jadi cuma administrasinya saja. Jadi di sana itu begitu konsesi langsung kena charge PNBP (Pendapatan Negara Bukan Pajak). Tapi kan di sana sudah ada kegiatan, nah di sini laut doang melongpong,” ujar Edi kesal, Kamis (30/8/2018).

Pada rapat tertutup yang sempat digelar Pemkot Cilegon, tiga pekan lalu dengan mengundang jajarannya, PT PCM, KSOP Banten dan BPN Kota Cilegon, penyerahan sertifikat HPL yang menjadi satu syarat perjanjian konsesi untuk memulai pembangunan Pelabuhan diperdebatkan panjang. Terjadinya keriuhan itu pun menyusul adanya banyak perbedaan pendapat dari berbagai pihak ketika aset milik pemkot itu diserahkan kepada KSOP selaku penyelenggara pelabuhan yang mewakili pemerintah pusat.

“HPL itu kan sudah diserahkan ke PCM, jadi sudah di luar neraca kita kan karena itu sudah menjadi aset yang dilepaskan. Saya sih berpikir sederhana, yang jelas setelah diserahkan tanah itu mau dikonsesikan sama PCM dengan KSOP. Jadi PCM itu tinggal meminta persetujuan saja ke saya selaku pemegang saham, bahwa lahan 10 hektar akan dikonsesi sehubungan dengan pembangunan pelabuhan. Kalau saya acc, ya udah PCM tinggal jalani saja. Jadi ngga usah lagi Pemda, Asda dan segala Staf Ahli itu ikut-ikut, gitu lho. Biarkan saja itu PCM,” papar Edi ketus.

Edi menuding kunjungan Asisten Daerah II Setda Cilegon Beatrie Noviana didampingi Staf Ahli Walikota Bidang Hukum, Bambang Bintan itu sia-sia adanya. Apa yang disarankannya malah tidak digubris. Oleh karena itu, Ia meminta agar proses pemecahan sertifikat HPL warnasari seluas 10 hektar di BPN dapat dipercepat PCM. Proses itu tidak perlu lagi melalui mekanisme panjang di Pemkot namun cukup melewati persetujuannya selaku pemegang saham.

“Ke Probolinggo itu kan untuk memastikan, apakah betul di sana itu (HPL) tidak diserahkan, ternyata diserahkan. Ga percaya sama orang tua sih semua tuh. Jadi yang akan mengajukan (pemecahan HPL) ke BPN itu juga ya PCM lah, saya cuma menyetujui. Karena dia (PCM) kan yang akan berbisnis di atas lahan 10 hektar itu,” ucapnya dengan nada kesal.

Ia meminta agar jajarannya tidak lagi membuang banyak waktu memperdebatkan panjang soal penyerahan aset itu. Jika pemecahan sertifikat dan konsesi dapat cepat diselesaikan, Ia pun optimis pembangunan pelabuhan dapat segera dimulai.

“Ya saya sih optimis saja (pemecahan HPL dapat tepat waktu). Kan kita timbang sana sini itu penuh kehati-hatian, cuma kadang-kadang sama omongan saya itu pada suka ngga percaya juga. Akhirnya ya begitu, cuma jalan-jalan saja ke Probolinggo,” tutup Edi sembari menaiki kendaraan operasionalnya. (Ronald/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here