Suasana industri pinggir pantai di Kota Cilegon. Foto Dokumentasi

CILEGON, SSC – Pabrik-pabrik industri di Kota Cilegon menjadi salah satu sektor yang terdampak terhadap Covid-19. Bahkan Pemkot Cilegon sebelumnya menyebutkan sektor tersebut menjadi salah satu klaster yang mendominasi pasien yang terpapar Virus Corona.

Meskipun begitu, industri tetap melanjutkan kebelangsungan usahanya agar operasi tidak berhenti. Berbagai inovasi dilakukan agar pabrik tetap berproduksi dan barang yang dihasilkan tetap dapat dijual. Namun protokol kesehatan Covid-19 benar-benar diterapkan secara ketat.

Manager Humas Resources and General Affair PT Dover Chemical di Cilegon, Dade Suparna mengakui, pandemi Covid-19 sangat berdampak terhadap bisnis dan usaha perusahaan. Berbagai kebijakan diambil agar perusahaan tetap bertahan meski masih pandemi.

Pandemi memang berpengaruh pada produksi dan penjualan. Diakuinya, meski penjualan turun tetapi perusahaan tetap menjaga performa agar tidak terpuruk.

“Pasti ada pengaruhnya, tidak mungkin kondisi pandemi berjalan 100 persen. Demand turun, itu sudah hukum ekonomi. Secara internal kita usahakan untuk tetap bisa menjual produk. Dengan cara semuanya, mengikuti protokol kesehatan,” ujarnya dikomformasi, Jumat (2/10/2020).

Baca juga  Baru Dibuka, Pasien OTG Corona di Rusunawa Margaluyu Kota Serang Tembus 6 Orang

Kata Dade, ada sejumlah strategi dilakukan perusahaan untuk menjaga kelangsungan pabrik. Seperti misalnya, kata dia, pada perjanjian kontrak antara pabrik penghasil bahan lem resin ini dengan pembeli. Kontrak yang biasanya ditanda tangani antara perusahaan dengan pembeli lewat cara bertemu langsung, kini diubah.

Perubahan itu dilihat pada proses kerjasama bisnis yang disepakati. Ditengah pendemi Covid-19, kata dia, proses kontrak disetujui lewat aplikasi online. Setelah disepakati atau disetujui, kontrak ditanda tangani di mana berkas dikirim kepada masing-masing pihak.

“Kalau dulu bertemu, sekarang ini perjanjiannya berbeda. Seperti misalnya kemarin saya diskusi mengenai kontrak, saya menggunakan google meeting atau zoom. Kita meeting, deal kontraknya di daring itu. Kemudian nanti akan saling tanda tangan,” tuturnya.

Efek pandemi juga berpengaruh pada produksi. Saat ini biaya produksi bertambah karena setiap karyawan harus dilengkapi Alat Pelindung Diri (APD). Termasuk penyediaan rapid test dan lainnya.

Baca juga  Ular Sanca Sepanjang 3 Meter Ditemukan di Kantor Disnaker Cilegon

“Semua berubah, cost juga berubah. Karena karyawan harus difasilitasi APD. Karena kalau kena (Covid-19), jadi lebih berbahaya. Kemudian kepada karyawan kita siapkan rapid test. Kita juga ada suplai vitamin untuk menjaga kesehatan,” ucapnya.

Selain itu, pandemi juga mengubah pola kerja di internal pabrik. Ia menerangkan, meski tidak menerapkan bekerja dari rumah (Work From Home), pola kerja pabrik yang dijalankan saat ini benar-benar menrapkan protokol Covid-19 secara ketat. Karyawan yang bekerja pada pandemi ini tidak diperbolehkan leluasa bertemu antara satu dengan yang lainnya.

“Semisalnya yang bekerja di lantai 1, ada 20 orang. Sekarang, 10 orang saya pindahkan ke atas lantai 2. Mereka tidak boleh lagi ke ruangan lain. Jadi orang-orang yang di ruangan itu, tidak boleh berhubungan dengam yang lain. Kalau butuh, koordinasi dengan daring. Untuk deteksi mereka keluar, kita minta di share location. Benar-benar kita terapkan ketat,” paparnya. (Ronald/Red)