Kapolda Banten, Brigjen Pol Tomsi Tohir didampingi Dirpolair Polsa Banten, Kombes Pol Nunung Saefuddin saat Peringatan HUT Polair ke - 68 di Mako Polair Polda Banten, Selasa (4/12/2018). Foto Ronald/Selatsunda.com

CILEGON, SSC – Sebanyak dua kali penyelundupan narkotika terjadi melalui perairan Banten. Pertama, Penangkapan terduga pelaku sabu dan ekstesi dilakukan oleh Polres Metro Jakarta Barat di pangkalan nelayan di Kampung Cikubang, Desa Argawana, Kecamatan Puloampel, Kabupaten Serang pada Selasa, 20 November 2018 lalu. Narkoba ini diselundupkan lewat Perairan Bojonegara dari Provinsi Bandar Lampung. Sementara baru-baru ini pada Senin, 3 Desember 2018, penangkapan terduga kurir narkoba dilakukan oleh Direktorat Narkoba Mabes Polri saat diatas Bus ALS yang baru keluar dari Pelabuhan Merak, Kota Cilegon. Barang yang diduga sabu sebanyak 20 kilogram ini diselundupkan lewat Pelabuhan Penyeberangan Bakauheni-Merak.

Menanggapi itu, Kapolda Banten, Brigjen Pol Tomsi Tohir mengakui jika wilayah Banten memang tergolong rawan penyelundupan Narkotika. Dari panjangnya garis pantai, banyaknya pelabuhan tikus dan lokasi yang dekat dengan ibukota DKI Jakarta, kata Kapolda, Banten menjadi jalur yang tergolong rawan penyelundupan. Akan tetapi berkat kerjasama dengan Mabes Polri dan informasi dari masyarakat, penyelundupan dapat digagalkan.

“Garis pantainya itu kan luas, jalan-jalan tikus juga cukup banyak kemudian dekat juga dengan Jakarta. Namum demikian, kita bersama-sama dengan Insprektorat IV Mabes Polri, kita bersama-sama berupaya untuk melakukan pengungkapan ini. Kedua kita berupaya dengan masyarakat disini melakukan pencegahan,” ungkap Kapolda usai meresmikan dermaga dan lapangan helikopter pada peringatan HUT Polair ke-68 di Direktorat Kepolisian Air (Polair) Polda Banten, Selasa (4/12/2018).

Disinggung adakah kesulitan dalam mengawasi penyelundupan lewat pelabuhan tikus, Kapolda menyatakan, bahwa jajarannya telah mendata bahkan juga gencar melakukan upaya pengawasan.

“Seluruhnya, kita sudah datakan. Kita sudah lakukan upaya-upaya (pengawasan) itu,” tandasnya.

Sementara, Dirpolair Polda Banten, Kombes Pol Nunung Saefuddin juga mengakui jika pengawasan penyelundupan di jalur perairan Banten belum berjalan optimal karena keterbatasan fasilitas kapal patroli.

“Garis pantai kita ini sepanjang 428, 6 kilometer, ada pantai utara dan pantai selatan. Khusus di pantai selatan, kita agak kesulitan melakukan patroli karena sarana kita tidak memadai. Ombak besar, angin kencang, kadang membahayakan berisiko untuk anggota kita,” paparnya.

“Dari sekian banyak pelabuhan tikus, dan dermaga yang selama ini tidak terpantau oleh kita, tentu peluang (penyelundupan) itu cukup besar,” tandasnya.

Saat ini, Ditpolair memiliki kapal patroli sebanyak14 armada untuk melakukan pengawasan perairan di Banten. Idealnya, sambung Nunung, Ditpolair memerlukan kapal patroli minimal sebanyak 20 armada. Ia berharap, bantuan dari Pemprov Banten dapat terealisasi pada tahun 2019 mendatang untuk menambah armada kapal patroli Ditpolair.

“Personil kita hanya 150 orang. Kalau mencover Banten, standarnya harus lebih dari 200 personil, apalagi kalau nanti naik Tipe. Kemudian kapal patroli kita ada 14, idealnya 20 lah dari berbagai tipe khususnya untuk wilayah pesisie pantai selatan harus berukuran besar, karena wilayahnya besar. Kita berdoa sarana kita bisa dilengkapi. Pak Ketua DPRD Banten juga sudah menginformasikan ke kita, pengajuan untuk kapal tipe c 1, insya Allah di tahun 2019 ada,” pungkasnya. (Ronald/Red)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here