Aktivitas pedagang di Pasar Kranggot, Kota Cilegon, belum lama ini. Foto Elfrida Ully/Selatsunda.com

CILEGON, SSC – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Cilegon menurunkan target pendapatan retribusi di Pasar Kranggot pada APBD 2019. Rencana penurunan target ini dilakukan lantaran realisasi capaian pendapatan selalu meleset dari harapan setiap tahunnya.

Kepala UPT Pasar Kranggot, Aceng Syarifudin menyatakan, target pendapatan yang ditetapkan pada 2019 senilai Rp 354.307.500. Nilai target diturunkan 50 persen dari target 2018 senilai Rp 447.920.750.

“Kalau dilihat dari dari presentasinya sendiri penurunanya hampir 50 persen dari tahun sebelumnya. Kemungkinan, di turunkannya pendapatan retribusi ini, karena setiap tahun target yang sudah ditetapkan selalu meleset,” kata Aceng kepada Selatsunda.com, Selasa (2/7/2019).

Ia mengaku, salah satu penyebab ketidaktercapaian target pendapatan  dilatarbelakangi para pedagang lebih memilih berjualan di luar pintu masuk pasar ketimbang berjualan di kios maupun lapak yang sudah tersedia.

“Penyebab ya itu kebanyakan pedagang itu berjualan di luar pintu masuk pasar. Sehingga membuat lapak maupun kios yang ada kosong. Kalaupun lapak atau kios itu rame, itu hanya diisi oleh pedagang musiman. Jadi sangat sulit kita (UPTD Pasar Kranggot,red) untuk mencapai target realisasi tersebut,” akunya.

Ia berharap, ada perhatian penuh dari Disperindag Cilegon agar target retribusi pendapatan tersebut dapat tercapai.

“Kita minta bantuan dari dinas untuk membantu pencapaian target ini. Kita enggak mungkin bisa bekerja sendiri kalau tidak ada perhatian dari dinas,” harapnya.

Menanggapi hal ini, Kepala Disperindag Kota Cilegon, Tb Dikrie Maulawardhana membenarkan hal tersebut. Disperindag, kata Kadis, sudah mulai menurunkan target retribusi pendapatan di Pasar Kranggot sejak awal 2019.

“Iyah benar kita turunkan mulai awal 2019 ini. Kita turunkan target ini, karena banyak kios maupun lapak yang kosong oleh pedagang,” ujar Dikrie.

Terkait pengenaan tarif retribusi yang dikenakan kepada para pedagang, sambung Dikrie, disesuaikan dengan jenis tempat pedagang berjualan. Dengan ditetapkannya  penurunan target itu diharapkan terealisasi.

Untuk diketahui, tarif perhari emprakan sebesar Rp750 rupiah, los sebesar Rp1.000, auning Rp 2.000 dan toko sebesar Rp 2.500. Sementara untuk total pedagang di Pasar Kranggot sebanyak 2.438 pedagang formal dan 600 pedagang non formal (tidak memiliki kios atau auning).

“Kita berharap, di 2019 target pendapatan di Pasar Kranggot bisa teralisasi,” pungkasnya. (Ully/Red)

Komnetar anda tentang berita diatas?