Para murid menyalami guru di salah satu SD di Kota Cilegon saat hari pertama masuk sekolah. (Foto Dokumentasi)

CILEGON, SSC – Meski pandemi Covid-19 masih melanda, fase menuju tatanan normal baru (new normal) mulai disesuaikan pemerintah. Dinas Pendidikan Kota Cilegon salah satu yang sudah mulai menyiapkan berbagai skema kebijakan pendidikan.

Skema itu baik penerapan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM), tenaga pendidik guru hingga penyediaan sarana yang disesuaikan dengan petunjuk aturan kesehatan Gugus Tugas Covid-19.

Khusus mengenai proses pembelajaran siswa mulai tingkat Paud, SD dan SMP antara satu sekolah dengan yang lain akan diterapkan berbeda-beda. Pembelajaran ada yang polanya bergantian dalam sehari. Tetapi ada juga siswa bergantian belajar di hari berikutnya dengan cara separuh siswa belajar di sekolah dan sisanya belajar di hari berikutnya atau belajar di rumah dengan sistem daring.

Baca : Persiapan New Normal, Dindik Cilegon Skemakan Pembelajaran Siswa Bergiliran

Kadindik Cilegon, Ismatullah mengatakan, pada dasarnya pola tersebut diskemakan di internal pihaknya menyesuaikan protokol kesehatan dalam mencegah penularan Covid-19. Hanya saja pengaturan tersebut tidak lepas kaitan kendala faktor eksternal lain.

Untuk pembatasan pembelajaran siswa di sekolah, diyakininya penularan Covid-19 bisa dicegah. Namun di luar aktivitas itu seperti siswa berangkat dan pulang sekolah dengan menggunakan transportasi umum atau angkutan kota rentan terpapar. Hal itu tidak bisa diatur pihaknya karena berada di ranah dinas lainnya.

“Yang khawatirnya itu, masyarakat tentunya ini kan beda dengan masyarakat pendidikan. Apakah nanti mereka (siswa) pulang dengan ojek, atau dengan angkot. Ini siapa yang bertanggungjawab untuk sosialisasi kepada mereka,” ujarnya.

Ia menerangkan, siswa di beberapa sekolah di Cilegon berangkat dan pulang sekolah masih menggunakan angkot dan kendaraan antar jemput.

Pihaknya khawatir jika dalam proses siswa ke sekolah dengan transportasi umum tidak diatur protokol kesehatannya maka kebijakan yang telah diskemakan Dindik akan sia-sia. Artinya, antisipasi siswa di sekolah sudah dicegah namun di luar sekolah malah sebaliknya.

“Penggunaan antar jemput seperti di SMPN 3 dominan kemudian SMPN 8 ada juga jemputan, RJ juga ada jemputan dan diantar orang tua. Dengan beragam situasi ini, Dindik, kita ke internal bisa (pencegahan penularan Covid-19, tapi ke eksternal kita tidak bisa, kurang maksimal,” terangnya.

Pihaknya meminta agar hal ini dapat diseriusi bersama seluruh pihak. Karena untuk memulai aktivitas sekolah selain melibatkan siswa dan pihak sekolah juga menjadi atensi stakeholder lainnya demi mencegah Covid-19 di Cilegon meluas.

“Nah yang seperti ini yang tidak terjangkau oleh kami. Apakah ini tanggung jawab pemerintah, atau masyarakat. Kami memang tidak bermaksud mempersoalkan, tetapi selama itu masih ranah di dindik, kami akan coba bantu lah,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here