Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon, Sabri Mahyudin. Foto Dok Istimewa

CILEGON, SSC – Sebagai upaya untuk mengurangi dampak penggunaan plastik, Pemerintah Kota Cilegon bakal menerapkan sekolah tanpa plastik.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon, Sabri Mahyudin mengatakan, sekolah yang akan menjadi percontohan sekolah tanpa plastik adalah Sekolah Menengah Pertama (SMP) 5 Kota Cilegon.

Sabri mengungkapkan, hal ini akan diwujudkan dalam Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Pemkot Cilegon melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cilegon dengan salah satu industri di Cilegon. SMPN 5 nantinya akan ditunjuk oleh Dinas Lingkungan Hidup sebagai pilot project pengurangan sampah plastik. Rencananya PKS digelar dalam rapat yang akan dilaksanakan di Ruang Rapat Setda Kota Cilegon, Selasa (4/12/2023) pagi.

Ia menerangkan, dipilihnya SMPN 5 Cilegon sebagai sekolah yang dilakukan PKS karena, sekolah tersebut telah menjadi SMP Adiwiyata.

“Oleh karena itu, dengan penunjukan ini bisa ditularkan ke sekolah lain untuk menyelesaikan persoalan sampah,” ungkapnya, Senin (4/12/2023).

Dalam mengimplementasikan SMP 5 Cilegon menjadi sekolah tanpa plastik, kata Sabri, pihak sekolah akan melibatkan siswa dari dua kelas yakni siswa kelas VII dan Kelas VIII. Para siswa mengumpulkan sampah untuk serahkan ke koperasi sekolah. Selanjutnya dari koperasi sekolah mengirim sampah ke bank sampah digital.

“Jadi yang kita fokuskan ini untuk kelas VII dan kelas VIII saja. Kenapa memilih 2 kelas ini? Karena kita tidak mau menganggu kelas IX tengah menghadapi ujian sekolah,” tuturnya.

Apabila, sampah plastik yang dikumpulkan memiliki nilai jual tinggi, maka dari pihak bank sampah digital akan memberikan kompensasi atau membayar melalui perbankan. Bank kemudian akan menyerahkan uang penjualan sampah tersebut ke buku tabungan para siswa. Namun sebaliknya, jika sampah plastik tidak bernilai jual, maka sampah tersebut akan diserahkan ke industri yang ditunjuk untuk diolah menjadi bahan bakar minyak (BBM). Kedepan, BBM tersebut akan diserahkan kembali ke sekolah tersebut.

“Pembayaranya akan dibayarkan per minggu oleh pihak bank sampah digital. Kalau soal harga jual, itu tergantung standarnya. Misal, kalau kardus berapa harganya, plastik high value berapa? Dan kantong pelastik low value berapa?,” urainya.

Dengan kerjasama ini, Sabri berharap, akan menggurangi sampah yang masuk ke TPSA Bangedung khususnya sampah anorganik.

“Kalau sampah organik kan digunakan untuk BPBJ. Jadi, bisa kita urai mana sampah organik dan anorganik di Cilegon,” pungkasnya. (Ully/Red)