CILEGON, SSC – Ratusan warga yang tinggal di sekitar Kelurahan Bagendung, Kecamatan Cilegon mulai mengungsi akibat dampak asap kebakaran Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Bagendung. Pekatnya kepulan asap membuat warga yang tinggal di tiga lingkungan mengalami gangguan sistem pernapasan.
Warga mengungsi ke tempat pengungsian yakni di Yayasan Pendidikan Islam Al-Bustaniyah yang berlokasi di Lingkungan Curug, Kelurahan Bagendung. Ada sekitar 122 jiwa dari 55 KK yang telah mengungsi.
Salah seorang warga, Madiah mengaku sudah mulai merasa terganggu dengan adanya kepulan asap dari pembakaran TPSA Bagendung. Warga yang didominasi ibu-ibu dan anak-anak ini mengeluh sudah mulai mengalami gangguan pernafasan.
“Menganggu banget Mba. Apalagi, kalau cuaca panas pasti menganggu pernafasan sekali. Saya sih pingin pemerintah bisa jasih perhatian buat kami,” kata Madiah kepada Selasunda.com, Kamis (8/8/2019).
Ia menceritakan, dirinya dan keluarga lebih memilih tinggal di tempat pengusian bersama pengungsi lain karena tidak nyaman melakukan aktivitas di tempat tinggal mereka.
“Kalau malam ke tempat pengungsian Mba. Kalau pagi baru pulang. Ngeri aja mba kalau tinggal di rumah pas malam hari. Asapnya itu lho ganggu pernafasan banget. Apalagi, kalau pagi pasti kabut asapnya sangat mengkhawatirkan,” tambahnya.
Dirinya berharap, agar Pemerintah Kota Cilegon bisa segera menyelesaikan asap kebakaran TPSA supaya masyarakat bisa beraktivitas normal kembali.
“Kami minta Pak Wali bisa segera ambil kebijakan untuk kasus ini. Kami sangat terganggu dengan asap ini,” lanjutnya.
Terpisah, Walikota Cilegon, Edi Ariadi mengaku, pihaknya akan terus berusaha memadamkan asap di TPSA Bagendung. Pihaknya juga telah meminta berbagai pihak terkait untuk bertindak cepat membantu pemadaman.
“Sampai 5 hari ini, kita (Pemkot,red) terus berupaya memadamkan asap di TPSA Bagendung. Saya optimis asap bisa dipadamkan,” ujar Edi.
Menurut orang nomor satu di Cilegon, salah satu penyebab lambatnya pemadaman asap di TPSA ini, disebabkan oleh cuaca yang panas serta kurangnya ketersediaan air untuk memadamkan sisa-sisa api pembakaran.
“Sekarang kan cuacanya masih panas dan enggak ada hujan juga. Tapi, kita tetap optimis asap dapat dipadamkan,” pungkasnya. (Ully/Red)

